Buaya Kembar

— By Clara Summers —

In the spirit of the Indonesiaful posts published in December 2015 and January 2016, we are pleased to publish yet another article written in bahasa Indonesia. The title, “Buaya Kembar,” translates to “Crocodile Twins.”

Makalah ini pernah ditulis untuk kelas Bahasa Indonesia di University of Washington, Seattle, pada tahun 2012. Semua nama dari buaya dan orang yang digambarkan di sini diubah untuk menjaga privasi.

Di Sulawesi, ada kejadian yang penting dan luar biasa sekali. Enam tahun yang lalu, saya bertemu dengan keluarga yang anggotanya termasuk manusia dan binatang. Keluarga itu mempunyai sepasang kembaran perempuan: seorang manusia, dan seekor buaya. Ibu mereka mengatakan, bahwa dia melahirkan anak kembar, dan bahwa dia tidak tahu, mengapa anak satunya buaya. Waktu dia ditanya, bagaimana dia bisa melahirkan buaya, dia bilang, “Sudah kehendak Allah.”

Ibu memandikan Fira di kolam renang di dalam rumahnya setiap malam.

Ibu memandikan Fira di kolam renang di dalam rumahnya setiap malam.

Buaya itu namanya Fira, dan kembarannya Fina. Umurnya mereka 18 tahun. Fina belajar di kota, tetapi dia pulang setiap akhir minggu untuk mengunjungi Fira. Fira berenang renang di kolam, dan sebelum tidur setiap malam dia dimandikan ibunya. Fira tidur di dalam tempat tidur Fina dan makan nasi. Waktu buaya kehilangan gigi, tetangga-tetangga mau membayar gigi itu, karena gigi buaya itu dianggap sakti.

Ibu kembaran mengatakan, bahwa keluarganya dulu tinggal jauh sekali dari rumahnya yang sekarang. Mereka pernah perlu pindah, dan buaya itu ditinggalkan oleh keluarga (Kalau buaya itu anak kandung orang tuanya, saya pikir, bahwa orangtua yang meninggalkan anak adalah sedikit jahat). Sembilan tahun sesudah keluarga itu pindah ke rumah yang baru dan jauh, buaya datang ke rumah itu! Keluarga itu mengenali dia, jadi menyambut dia dan kolam dibangun untuk Fira. Kami tidak tahu, bagaimana Fira berjalan demikian jauh seperti itu.

Keluarga itu tinggal di Sulawesi Tengah, dan di lokasi itu orang-orang punya kepercayaan yang spesial tentang buaya. Orang tidak memburu buaya, dan sebaliknya, karena buaya di lokasi ini mempunyai lima jari, sama dengan manusia. Kalau buaya hanya mempunyai empat jari, mereka mungkin “nakal,” tetapi buaya yang jarinya lima mirip orang.

Keluarga Fira aneh sekali, tetapi bukan unik. Ada beberapa perkara kembaran manusia-reptil yang lain di Sulawesi, dan fenomena itu terjadi di negeri Pilipina. Beberapa peneliti percaya, bahwa fenomena ini hanya terjadi di antara orang Bugis dan Makassar, dan biasanya kembarannya reptil biawak. Impresi ini salah, karena peneliti ini hanya kenal dengan satu perkara, tetapi mereka bilang, bahwa fenomena ini berasal dari cerita tentang ratu Kerajaan Gowa. Orang Bugis percaya, bahwa ratu Kerajaan Gowa pernah melahirkan kembaran manusia-biawak. Anak manusia meninggal sesudah dilahirkan, dan biawak menghilang sesudah seminggu. Katanya, kembar biawak akan pulang suatu hari nanti, dan dia akan mengatakan kembalinya dia kepada orang-orang di dalam mimpi mereka. Jadi, suatu biawak mempunyai jiwa manusia.

Fira di tempat tidurnya.

Fira di tempat tidurnya.

Orang yang tinggal di pulau Komodo mempunyai cerita yang mirip tentang komodo, tetapi tidak ada kasus kembaran yang dilaporkan. Mereka juga percaya, bahwa komodo mirip orang, dan orang yang berasal dari Komodo biasanya tidak pernah diserang komodo. Seperti tersebut di atas, di negeri Pilipina ada banyak kasus kembaran manusia-reptil—kembaran di sana adalah kembaran manusia-ular. Kadang-kadang ular dilahirkan dengan kembar manusia, tetapi lain waktu mereka muncul sesudahnya. Kembaran mempunyai koneksi yang spesial, dan waktu kembar ular sakit atau meninggal, kembar manusia juga menjadi sakit atau meninggal. Katanya bahwa kembar manusia bisa memanggil ular-ular dan menyembuhkan gigitan ular atau penyakit yang lain. Biasanya mereka beruntung dan berhasil, tetapi umumnya orang tuanya mencoba mengusir kembar ular. Orang di Indonesia lebih menerima kembaran reptil.

Agama di Indonesia sering dicampurkan dengan agama yang lain, dan bagi banyak orang Indonesia tidak ada kontradiksi dengan Islam dan agama lokal. Jadi, keluarga Fira Muslim, walaupun Islam mempunyai fatwa melawan asosiasi dengan binatang yang tinggal di dua lingkungan. Di kasus ini, fatwa ini tidak berlaku, karena Fira dasarnya mempunyai jiwa manusia.

Fenomena ini tidak terkenal, bahkan di antara orang Indonesia, walaupun sudah lama ada kembaran manusia-reptil di Asia Tenggara. Lebih banyak penelitian diperlukan. Misalnya, mengapa hanya ada kembaran manusia-reptil, bukan kembaran manusia-kera? Kera kelihatan lebih mirip orang daripada reptil, tetapi kera hanya dipelihara sebagai binatang kesayangan. Dan bagaimana perempuan bisa melahirkan reptil? Mengapa fenomena ini ada di Asia Tenggara, dan tidak ada di tempat yang lain?

Keluarga Fira bisa mengajarkan kehidupan dengan alam kepada kita. Walaupun banyak orang di Indonesia tidak tahu apa-apa atau tidak peduli konservasi, keluarga ini membentuk lebih banyak koneksi dengan alam daripada orang Amerika yang peduli pada alam dan konservasi. Bagaimana konservasionis bisa memakai fenomena ini untuk pendidikan konservasi, dan orang Amerika bisa belajar apa dari keluarga seperti keluarga Fira? Fenomena ini memerlukan perhatian dari antropolog, untuk pemahaman dunia.

Penulis, Fira, dan ibunya pada tahun 2010.

Penulis, Fira, dan ibunya pada tahun 2010.

Bibliografi

  • Rudolph, Ebermut. “The Snake-Twins of the Philippines: Observations on the Alter-Ego Complex.” Philippine Quarterly of Culture and Society. V15-16(1987):I1, 45-77, I3-4, 250-280. Print.
  • Koch, André, and Gregory Acciaioli. “The Monitor Twins: A Bugis and Makassarese Tradition from SW Sulawesi, Indonesia.” International Varanid Interest Group. 1.2 (2007): 77-82. Print.
  • Summers, Marcy. “September Update 2010: What About Big Blood-thirsty Man-eaters?.” Monthly Update Archive.
  • http://www.tompotika.org/NewsResourcesbriBeritaInformasii/.%5CNewslettersUpdatesbriWartai.aspx#10-09
  • Ibu Desiana Pauli Sandjaja, University of Washington

Clara Summers, a native of Vashon Island, WA, is an ETA at SMAN 7 Malang. She graduated in 2014 from the University of Washington, where she majored in Anthropology and Czech Language, but also studied Indonesian. In her spare time, she enjoys killing mosquitoes, singing dangdut, and learning about Indonesian ghosts.

Advertisements

3 thoughts on “Buaya Kembar

  1. Pingback: Crocodile Twins[signs of end times?] | Ribka Christ's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s